West Papua Images

Polls

Will West Papua become a free and independenat nation?
 

Statistics

OS : Linux i
PHP : 5.6.37
MySQL : 5.5.60-0+deb7u1-log
Time : 15:28
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Members : 12284
Content : 1235
Web Links : 1
Content View Hits : 4054655
Nickolas Jouwe Berhak Bicara Status Papua Bukan Tanggungan Indonesia, Tapi Amerika PDF Print E-mail
Written by Bintang Papua   
Tuesday, 09 March 2010 21:17
Senin, 08 Maret 2010 23:08

Nickolas Jouwe Berhak Bicara
Status Papua Bukan Tanggungan Indonesia, Tapi Amerika

JAYAPURA–Pernyataan Ketua Umum Dewan Adat Papua (DAP) dan Komandan Satgas Koteka yang terkesan mendiskreditkan kepulangan tiga tokoh OPM, serta memberikan status yang tidak layak kepada ketiga tokoh OPM tersebut, merupakan hal yang sangat disayangkan.


“Kami sangat menghormati serta memahami pernyataan DAP dan Satgas Koteka, itu sah-sah saja, di era demokrasi, demikian halnya dengan pernyataan Nickolaus Jouwe sebagai orang Papua, dia juga berhak untuk berbicara mengeluarkan peryataan sesuai kualitas, kapasitas dan pengalaman yang dimilikinya,” terang Hengky Joku, Sekretaris Umum, Independent Group Supporting to Special Autonomous Region of Papua Within Republik of Indonesia (IGSSARPRI), Senin (8/3) kemarin di Jayapura ke media ini.


Hengky mengunkapkan, pada dasarnya pernyataan Komandan Satgas Koteka itu sangat baik, namun pernyataan tersebut juga keliru karena selama Papua berintegrasi dengan Indonesia melalui proses politik yang rumit, Papua sudah banyak mengalami kemajuan.


“Kita akui Otsus banyak ketimpangan, namun kita juga tidak bisa menutup mata dengan perubahan yang terus terjadi, pembangunan itu sedang kita sama-sama jalani, banyak anak-anak Papua bisa mengenyam pendidikan sampai ke tingkat yang tinggi, bisa menjadi perwira di TNI maupun POLRI, hampir kita sudah bisa disegala bidang, apakah itu bukan pembangunan?” tanya Hengky.
“Seharusnya, DAP selaku lembaga Adat tidak perlu menyatakan pandangan-pandangan yang memecah bela kesukuan di Tanah Papua, ada 360 suku di Papua, memiliki keunikan pola hidup, pola pikir sendiri-sendiri. DAP tidak bisa mengeneralisasi semua suku di Papua,” ingat Hengky.
Sementara menyinggung soal kemerdekaan bangsa Papua yang disebut-sebut baik oleh Jouwe yang mengaku Bangsa Papua sudah merdeka dalam NKRI dan DAP yang bertentangan dengan sikap Jouwe yakni memberikan jaminan bahwa usaha memisahkah diri bangsa Papua mendapat dukungan Internasional, ditanggapi Joku dingin.


Joku yang melalui IGSSAPRI terus mengupayakan pemulangan orang Papua dari luar negeri ini, menjelaskan bahwa integrasi bangsa Papua (lahir Otsus Papua) ke dalam NKRI bukan semata-mata keinginan Indonesia namun integrasi Papua kedalam Indonesia atas perintah Amerika beserat sekutunya yang kala itu ingin menjaga stabilitas Politik di Asia Tenggara.


“Yang seharusnya dituntut masyarakat Papua adalah Amerika dan sekutunya, bukan Indonesia karena Indonesia waktu itu hanya nurut pada perintah Amerika, dan inipun didasarkan pada resokuasi PBB 2605,” sambungnya.


Sedangkan mengenai pelanggaran HAM yang menjadi isu pokok di Papua, Joku mengatakan bahwa mestinya masalah-masalah pelanggaran HAM di Papua tidak dilihat dari sisi Papua saja, pasalnya hampir di seluruh wilayah di Indonesia banyak terjadi pelanggaran HAM.
“Ingat bahwa 3000 lebih orang dibunuh oleh Pemerintah karena mereka diduga PKI, itu saja yang pelanggaran HAM berat sampai saat ini tidak diungkit-ungkit, karena Amerika sebagai designnya, jadi mari kita tempatkan masalah HAM ini secara universal,” harapnya.(hen)

http://bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=5363:nickolas-jouwe-berhak-bicara-status-papua-bukan-tanggungan-indonesia-tapi-amerika&catid=25:headline&Itemid=96
 

Latest News

Warta Papua Barat, Papua Merdeka!; Contact Us