62 Jiwa Warga Eks PNG Pulang Kampung Print
Written by Bintang Papua   
Wednesday, 07 April 2010 00:03

MERAUKE (PAPOS)-Sebanyak 62 jiwa atau 16 kepala keluarga (KK) yang selama belasan tahun tinggal di negara PNG, telah kembali ke tanah kelahiran mereka di Kampung Baedup, Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke. Selama di PNG, mereka tinggal di Kampung Boset dan melakukan aktivitas sebagai petani.

Kepala Badan Perbatasan Kabupaten Merauke, Drs. Albert Muyak ketika ditemui Papua Pos di ruang kerjanya, Kamis (1/4) menjelaskan, 16 KK itu sudah berada di Kampung Baedup sejak tanggal 12 Maret tahun 2010 dan masih ditampung di tiga rumah untuk nantinya diatur lebih lanjut lagi. Kepulangan mereka dari PNG, kata Muyak, atas keinginan sendiri-tanpa ada unsur pemaksaan.

Albert mengungkapkan, informasi tentang kedatangan mereka di Baedup, diperoleh dari Batalyon 753 AVT. Begitu mendapatkan tempat mereka tinggal, pihaknya langsung bergerak kesana dan melihat dari dekat sekaligus berdialog. “Saya bersama staf dan juga Pak Mayor (Inf) Jefri Simanungkalit telah bertemu dan membangun komunikasi secara baik,” ungkap Muyak.

Disinggung alasan sehingga mereka pulang kampung, Muyak mengungkapkan, karena tidak diberikan perhatian secara baik oleh pemerintah disana. Selain itu juga tidak diberikan lahan untuk bisa melakukan aktivitas bercocok tanam sebagaimana biasa. Juga persoalan limbah yang sangat mengganggu, bahkan ada yang meninggal akibat aroma menyengatkan. Beberapa alasan tersebut yang mendasari sehingga mereka pulang ke daerah asalnya di Merauke.

Pemkab Merauke, menurut Muyak, telah membawa bantuan berupa 500 kilogram beras serta 50 karton super mie. Bantuan tersebut hanya untuk sementara saja. “Ya, saya akan menyampaikan kepada Bupati Merauke, Drs. Johanes Gluba Gebze agar mereka bisa diatur lebih lanjut untuk bisa betah dan dapat menjalankan atau melaksanakan aktivitas di tanah kelahirannya seperti biasa,” kata mantan Kabag Keuangan Setda Kabupaten Merauke ini.

Ditambahkannya, kedatangan mereka di Kampung Baedup, diterima secara adat oleh masyarakat setempat. Dengan demikian, hubungan emosional antar mereka sudah terbangun baik. “Saya salut dengan warga di Kampung Baedup karena mereka sangat meresponi kedatangan saudara-saudara dari PNG yang sudah sekian tahun ditinggalkan,” ujarnya.[frans]