West Papua Images

Polls

Will West Papua become a free and independenat nation?
 

Statistics

OS : Linux m
PHP : 5.2.17
MySQL : 5.5.57-0+deb7u1-log
Time : 17:27
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Members : 12238
Content : 1235
Web Links : 1
Content View Hits : 3683770
Suciwati : “Buat Saya, Theys Adalah Tokoh Yang Sangat Konsisten” PDF Print E-mail
Written by JUBY   
Sunday, 11 November 2012 18:22

Jayapura (11/11) —Makam almarhum Theys Hiyo Eluay di Sentani dikunjungi Suciwati, isteri almarhum Munir Said Thalib. Ia juga mengunjungi serta bertemu keluarga Aristoteles Masoka, supir Theys yang hilang seusai melaporkan penculikan Theys pada malam 10 November 2001 lalu.

“Kedatangan Ibu Suciwati pertama kali ini bertepatan dengan peringatan hari pembunuhan Theys yang sekarang sudah 11 tahun. Di mana kita lihat sebenarnya, kasus ini pun belum selesai karena memang sejak disidang tahun 2003 sampai sekarang. Ada hukuman bagi para pelaku tetapi sekarang sudah bebas. Ini artinya bahwa saat kita bicara soal impunitas, sampai dengan sekarang ini masih persoalan di negara kita,” demikian kata Olga Hamadi, Koordinator KontraS Papua yang mendampingi Suciwati saat konferensi pers pada hari ini, Minggu (11/11) yang berlangsung di kantor KontraS Jayapura, Papua .

Suciwati dan Olga Hamadi di kantor KontraS Papua (Dok.Jubi)


Suciwati adalah sosok perempuan yang pernah menjadi aktivis buruh ini menyatakan, suaminya diracun dalam penerbangan Garuda Indonesia, dari Jakarta menuju Amsterdam pada 7 September 2004 lalu. Kedatangan Suciwati ini difasilitasi oleh Yayasan Pantau Jakarta.

“Buat saya, Theys adalah tokoh yang sangat konsisten untuk terus memperjuangkan keadilan bagi Masyarakat Papua karena masyarakat Papua terus-menerus mengalami kekerasan, penindasanyang sangat luar biasa. Dan ini sama juga menimpa almarhum Munir ketika Theys bicara kebenaran, dia akhirnya dibunuh. Sempat juga akmarhum suami saya bicara soal kematian Theys yang tersangkut masalah kebocoran dokumen, kita lagi-lagi harus melihat bahwasanya Negara kita ini tidak pernah berubah meskipun rezin terus menerus berganti,” kata Suciwati hari ini, Minggu (11/11) membagikan pengalamannya di hadapan wartawan di Kantor KontraS Padang Bulan, Waena, Jayapura.

Munir dari KontraS semasa hidupnya mengatakan, pembunuhan Theys ada kemungkinan terkait dengan sebuah dokumen bocor dari rapat di Departemen Dalam Negeri pada 8 Juni 2000 dimana dibicarakan soal merdeka. Anggota Kopassus juga menghadiri rapat tersebut sebagai peserta.

Menurut Suciwati, wajah asli dari Pemerintah Indonesia soal impunitas, bagaimana para pelaku pelanggaran HAM itu sampai hari ini tetap eksis dapat kita lihat di kasus Theys, hari ini keadilannya tidak ada. Siapa pembunuhnya, jelas sebetulnya. Ada di sana, yaitu para tentara yang sudah dibawa ke pengadilan dan hari ini mereka bebas.

Tanggal 21-23 April 2003, Pengadilan Militer Surabaya memvonis Letkol Tri Hartomo dan enam Anggota Koppasus lain yang bersalah secara bersama-sama melakukan penganiayaan yang mengakibatkan kematian Theys. Mereka dihukum 2-3.5 tahun penjara serta sebagian dipecat dari militer. Letkol Tri Hartomo, Komandan Kopassus Jayapura (pemecatan, hukuman 3.5 tahun penjara); Mayor Doni Hutabarat (2.5 tahun penjara, mengundang Theys dalam acara Kopassus, ikut memata-matai Theys); Kapten Rionaldo (3 tahun, melakukan penganiayaan terhadap Theys, memata-matai Theys); Letnan Satu Agus Supriyanto (3 tahun, penganiayaan, tidak hentikan Prajurit A. Zulfahmi saat mencekik Theys); Sersan Satu Asrial (3 tahun, penganiayaan); Sersan Satu Laurensius Li (2 tahun, tidak mencegah rekan-rekannya mencekik dan menganiaya Theys); Prajurit Kepala, A. Zulfahmi (3 tahun, pemecatan, mencekik Theys dalam mobil Toyota Kijang)

Sebulan sebelum pembunuhan, Tri Hartomo memerintahkan bawahannya ‘mengamankan’ Theys. Di pengadilan, Hartomo mengaku bahwa ia memerintahkan anak buahnya untuk mencegah Theys merayakan kemerdekaan Papua pada 1 Desember 2001. Mayor Doni Hutabarat adalah pemimpin tim. Mereka menghentikan mobil Theys di Daerah Skyline, sekitar 20 menit dari Hamadi. Menurut kesaksian di Surabaya, Theys berteriak yang membuat A. Zulfahmi membungkam mulut Theys dan ‘tak sengaja’ membunuhnya.

“Kalau kita lihat di kasus penculikan, Tim Mawar itu orang-orang Kopassus juga bagaimana mereka juga dibawa ke penjara tetapi dibebaskan lalu kemudian dipromosikan. Bagaimana Sriyanto, dia juga termasuk orang yang seharusnya menjadi tersangka malah menjadi Pangdam Sriwijaya waktu itu,” demikian kata Istri Munir lagi.

Sekarang, ternyata ketujuh orang tersebut tidak sepenuhnya menjalani hukuman yang ditimpakan pengadilan Surabaya. Ada kemungkinan mereka mendapat keringanan ketika banding di Pengadilan Militer Jakarta. Tri Hartomo baru dipindahkan dari Kopassus ketika Amerika Serikat hendak menjalin kerja sama militer dengan Kopassus pada Juli 2010. Kini Hartomo adalah Komandan Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat di Bandung. Doni Hutabarat kini berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas sebagai Komandan Dandim di Medan

“Di tragedi Mei, kita bisa melihat Syafri Samsudin yang seharusnya menjadi pihak yang bertanggung jawab atas Kerusuhan Mei 1998 tetapi dia justru dipromosikan di Menteri Pertahanan. Ini juga terjadi pada Kasus Munir. Lagi-lagi masyarakat sipil yang dipenjarakan. Polycarpus dihukum 20 tahun, Direktur Garuda dihukum 1.5 tahun dan juga ada sekretarisnya dihukum 1.5 tahun. Sementara Muhdi sampai sekarang masih bebas, meskipun sempat ditahan dalam proses pengadilan,” Suciwati yang enggan menggunakan jasa penerbangan Garuda pasca kematian suaminya ini.

Hingga kini, Kopassus tetap melakukan kegiatan mata-mata terhadap Masyarakat Sipil Papua, termasuk membayar wartawan, guna mengawasi tokoh-tokoh sipil. Agustus 2011, ratusan lembar dokumen Kopassus bocor, termasuk nama-nama wartawan, pegawai negeri, supir rental, tukang ojek dan lain-lain yang bekerja untuk Kopassus. (JUBI/Aprila Wayar)

 

Latest News

Warta Papua Barat, Papua Merdeka!; Contact Us