West Papua Images

Polls

Will West Papua become a free and independenat nation?
 

Statistics

OS : Linux i
PHP : 5.6.38
MySQL : 5.5.60-0+deb7u1-log
Time : 20:27
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Members : 13111
Content : 1235
Web Links : 1
Content View Hits : 4198567
Natalis Tabuni Gagal Membangun Intan Jaya PDF Print E-mail
Written by Punik Castro   
Friday, 30 January 2015 08:41

Logo Kabupaten Intan Jaya. diambil dari google

 

Oleh : Dami Zanambani

 

Pada dasarnya bupati memiliki tugas dan wewenang memimpin penyelengaraan pembagunan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD.  Oleh sebabnya,  semestinya  seorang bupati menjadi pemimpin proses pembagunan itu sendiri untuk melaksanakan kewajiban sebagai kepala daerah.

Namun yang terjadi saat ini di Kabupaten Intan Jaya sangatlah ironis. Proses pembangunan bisa dikatakan vakum.

Buktinya sekarang ini, pembangunan fisik, kesehatan, dan pendidikan  berjalan ditempat.  Ini mengartikan bahwa selama dua setenga tahun masa kerja Natalis Tabuni gagal dalam membangun Kabupaten Intan Jaya.

 

Terlihat pembangunan infrastruktur,  jalan maupun bangunan perkantoran di Intan Jaya tidak mengalami kemajuan. Fakta menjunjukan perkantoran di Kabupaten Intan Jaya adalah peninggalan Bupati  Karateker Maximus Zonggonau.

Visi misi Natalis Tabuni yang mau membawa Intan Jaya jauh lebih baik dalam tiga program, yakni, Intan Jaya sehat, Intan Jaya Pintar dan Intan Jaya Sejahtera jauh dari harapan.

 

Contoh kongrit seperti yang terjadi di SD Negeri Inpres Joambili, jaraknya hanya setenga kilometer dari kantor bupati Intan Jaya. SD ini hanya memiliki lima ruang kelas tanpa ruang guru, perpustakaan dan perumahan guru.

 

Parahnya lagi SD Negri Inpres Joambili, hanya memiliki satu guru PNS ditambah dua guru honorer yang harus mengajar 137 murid dalam lima kelas. Rasio tiga guru banding 137 murid tentulah tidak memenuhi syarat berlangsung proses belajar mengajar.

 

Itu baru bidang pendidikan. Dalam bidang kesehatan kita tahu sampai sekarang  Intan Jaya belum memiliki sebuah RSUD. Bahkan rencana pembangunan gedung RSUD saja belum terdengar.

 

Itu baru dua contoh proses pembangunan yang mandeg. Masih banyak contoh lain dapat dibeberkan, tetapi mengigat ruang yang tidak cukup, tidak mungkin diuraikan satu-per satu.

 

Bela Diri

Parahnya, kiritikan dan masukan dari berbagai pihak, ditangapi secara politik oleh bupati Natalis. Bukannya memperbaiki kinerja Pemerintahan Kabupaten Intan Jaya,  bupati malah menanggapi secara  politik dengan mengeluarkan pernyataa yang konyol.

 

Bupati malah menuduh lawan-lawan politiknyalah mengahambat pembagunan Kabupaten Intan Jaya, bahkan hanya untuk pembagunan sebuah kantor bupati.  Padahal kita semua tahu  masa pilkada  Kabupaten Intan Jaya suda lewat dua setengah tahun yang lalu. Seharunya  sekarang saatnya untuk membangun daerah.

 

Lagi pulah bupati memiliki kewenangan untuk merombak Struktur pemerintahan kabupaten Intan Jaya. Bupati bisa saja menon-Jobkan bawahannya yang tidak menunjukan kinerja positif dalam mengemban tugasnya.

 

Jika hal ini terus menerus terjadi maka bisa diungakapkan bahwa Natalis Tabuni tidak mampu membangun Kabupaten Intan Jaya.  Oleh karena itu, dari pada mengutuk kegelapan lebih baik menyalakan lilin. Bupati Natalis, segerah harus menunjukan keseriusannya dalam membagun Kabupaten Intan Jaya dalam dua setengah tahun sisa periode masa baktinya. Jika tidak ia akan dicatatat sebagai bupati yang gagal membangun Kabupaten Intan Jaya.

 

 Dami Zanambani, Mahasiswa asal Intan Jaya, saat ini sedang study di Kota Yogyakarta

 

 

Punik Castro

Last Updated on Friday, 30 January 2015 08:50
 

Latest News

Warta Papua Barat, Papua Merdeka!; Contact Us