West Papua Images

Polls

Will West Papua become a free and independenat nation?
 

Statistics

OS : Linux i
PHP : 5.6.38
MySQL : 5.5.60-0+deb7u1-log
Time : 19:47
Caching : Disabled
GZIP : Enabled
Members : 13108
Content : 1235
Web Links : 1
Content View Hits : 4198359
Polri Tak Serius Ungkap Kasus Penembakan di Paniai PDF Print E-mail
Written by Punik Castro   
Friday, 16 January 2015 12:05

Polri Tak Serius Ungkap Kasus Penembakan di Paniai

            Warga sipil korban penembakan di Eanrotali, Paniai. Foto lst                                                                           

 

Jayapura, suarapapua.com --- Institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dituding tak serius bekerja dalam mengungkap kasus penembakan yang menewaskan lima warga sipil dan belasan lainnya luka-luka di Enarotali, Kabupaten Paniai, Papua, Senin (8/12/2014) lalu.

Diberitakan suarapapua.com, Ketua Dewan Adat Daerah (DAD) Paniai, John NR Gobai mengemukakan pendapat tersebut.

 

“Pernyataan Kapolri bahwa pihaknya sulit mengungkap kasus kekerasan di Paniai karena salah satu alasanya tidak ada hasil otopsi jenazah, itu bukti bahwa Polri tidak seriusi kasus tersebut,” kata John dilansir suarapapua.com

 

Belum lama ini di Jakarta, Kapolri Jenderal Pol Sutarman menyatakan, pihaknya sulit mengungkap kasus kekerasan di Paniai. Alasan Kapolri, keluarga korban tak ijinkan untuk otopsi terhadap jenazah yang sebelum dikebumikan sempat disemayamkan selama 3 hari di dekat lokasi insiden.

 

John berpendapat, seorang Kapolri tak bijak mengeluarkan pernyataan demikian. Sebab, dengan komentar Kapolri, publik akan menilai bahwa ada niat Polri untuk menutupi dalam-dalam insiden berdarah tersebut.

 

“Komentar Kapolri ini patut disayangkan karena secara otomatis dia sudah menunjukkan kepada publik bahwa institusi yang dipimpinnya (Polri)  tak mampu mengungkap pelaku penembakan di Lapangan Karel Gobai Enarotali,” tuturnya.

 

Padahal, menurut John, fakta dalam peristiwa tersebut sudah jelas ada warga sipil meninggal dunia setelah tertembak peluru, dan yang lainnya luka-luka hingga dirawat di RSUD Paniai.

 

“Alasan jenazah tidak bisa diotopsi itu alasan murahan. Masih ada korban luka-luka, bahkan ada korban yang dalam tubuhnya terdapat peluru. Itu bisa diselidiki, jadi Polri harus bisa tunjukan kinerjanya, bukan bangun opini publik melalui media massa saja,” ujar John.

 

Kapolri menurut John, mesti mengerti dengan baik Undang-undang Nomor 26 tahun 2000 tentang Pelanggaran HAM. Di dalamnya diatur mengenai hal-hal yang dapat dikatakan sebagai sebuah kejahatan kemanusiaan atau pelanggaran HAM.)

 

“Kalau bilang sulit ungkap, lalu peluru yang ada dalam tubuh korban luka-luka dan yang berhamburan di lokasi insiden itu milik siapa? Kapolri harusnya bicara tentang sejauhmana tahapan yang sedang dilakukan, bukan langsung bilang sulit diungkap. Itu sudah sangat menyakiti keluarga korban dan rakyat pada umumnya.”

 

“Pekerjaan Polri masih ditunggu, sudah sejauhmana mereka mengungkapnya. Karena jelas, ada penembakan terhadap warga sipil, ada bukti peluru. Proyektil peluru yang diangkat petugas medis dari tubuh korban luka-luka itu harusnya bisa diselidiki,” tutur John. ( suarapapua.com / Warta Papua Barat )

 

 

Punik Castro

Last Updated on Friday, 16 January 2015 12:08
 

Latest News

Warta Papua Barat, Papua Merdeka!; Contact Us